Kamis, 08 Januari 2015

Kabut Senja Dusun Tuo

CERPEN
by : Zahra-SRN
1 Januari 2015



Sang Surya sudah mulai tinggal sepenggalah, namun tak jua menyurutkan semangat penduduk dusun ini. Seperti kerumunan semut yang berbaris rapi dan berjajar antri. Pernahkah engkau lihat seekor semut memotong barisan semut di depannya? Walau alasan terdesak sekalipun? Tak pernah bukan. Begitulah fenomena senja ini.

Antrian itu semakin lama semakin memendek. Satu persatu penduduk pulang dengan mimik lega. Tak lupa berbekal sekantong kecil berbungkus-bungkus obat. Bermacam-macam bentuknya, ada yang bulat kecil hingga bulat besar. Ada pula yang lonjong. Bahkan ada pula yang serbuk halus. Untuk yang terakhir, mestilah digiling dengan hati-hati dan cekatan didalam lumpang.

Tiga bulan sejak kedatangan kami kesini, sudah menjadi pemandangan yang biasa di Dusun Tuo ini. Maklumlah, sudah hampir setahun Puskesmas pembantu ini kosong tak berpenghuni. Tak jelas asal muasal musababnya. Tapi jika kau tengok ke sini, maka menjadi maklumlah. Aduhai siapalah gerangan yang mau bertinggal disini lebih lama? Jauh dari keramaian kota. Menempuh jaraknya bukanlah dekat. Jika kau bertolak dari kecamatan Muaro Bungo, 2 jam kemudian baru kau bisa tiba ke dusun ini. Jalanannya pun tiada semarak. Di kanan kiri hanya ada barisan pohon-pohon sawit yang terbentang menjulang ke langit sejauh matamu memandang. Belum lagi jika musim penghujan, seketika jalanan pun berubah tak ayal layaknya jalur reli motor. Berlumpur dan licin. Tak kusarankan kau memakai roda empat, dijamin kendaraan takkan bisa melaju cepat bahkan bisa terjebak. Hanya Sepeda bermesin yang menjadi harapan, walau kadang kau harus rela tubuhmu itu jatuh bermandikan lumpur.

Akhirnya aku bisa menghentikan penat. Kuregangkan kedua tangan yang mulai tak lancar peredaran darahnya. Ku tekuk leher ke kanan dan ke kiri. Kugoyangkan tubuh meliuk-liuk bak penari ular. Untuk waktu yang singkat, cukuplah kiranya gerakan ini mengembalikan kebugaran tubuhku yang sempat memudar. Kusampirkan jas putih dibalik pintu ruang periksa yang hanya berukuran 6 X 6 meter. Dominasi cat putih menambah dingin suasana ruang. Tak banyak penghuni, hanya ada 1 ranjang periksa, lampu sorot dan lemari kaca. Baru-baru ini saja bertambah penghuninya, dua kursi, satu meja kerja dan 1 rak kayu berukuran sedang yang memiliki roda. Bukan barang buatan luar negeri tapi asli buatan penduduk dusun sendiri.

Aku hanya mengeluarkan 1 lembar ratusan ribu untuk membeli paku serta tripleknya. Sedang yang lain, dari sokongan warga. Inilah yang membuatku terpukau, rasa gotong royong dan tolong menolong yang amat tinggi dikalangan penduduknya. Tak seperti daerah asal tempatku tinggal, di kompleks daerah TelanaiPura di Tengah Kota Jambi, kau akan menemukan rumah berjejer megah dengan pagar tinggi sejajar pintu. Tak nampak aktivitas penghuni didalamnya karena pandanganmu hanya membentur tembok. Bahkan aku pun baru tahu jika anak tetangga disamping rumah, kuliah di Fakultas yang sama denganku, ketika bertemu di acara Walimahan anak lain si empunya rumah. Yah, begitulah potret kehidupan sosial saat ini di kota yang mau beranjak besar.

Mencari sosok yang kurindukan, kutemukan ia di sudut dapur sedang mencuci perkakas dapur dengan cekatannya. Rupanya ia habis memasak, karena tak jauh dari sana, dari meja makan kayu, bau aroma Tempoyak Patin seketika menyeruak ke dalam hidungku yang lapar. Ditambah sambal terasi yang masih didalam cobekan, Rebusan daun ubi yang cantik terhidang menambah keakutan selera makanku menjadi stadium lanjut.

“Eits, jangan sentuh makanan itu bang. Cepatlah mandi. Kagek keburu Adzan Maghrib, payo kita sholat berjama’ah dulu. Kagek baru kito makan”. Seketika lengkingan jangkrik mulai terdengar, tapi sayup-sayup jarang. Tak seperti biasanya, kedengaran malu-malu. Seperti ia mewakili perasaan hatiku saat ini. Ku enggan beranjak, tapi sepasang tangan indah mengamit lenganku. Dengan tegas, ia menggandengku kekamar mandi, mengalungkan handuk sebagai hadiahnya. Dengan ekor matanya yang indah, menyihirku untuk segera masuk kedalam. Kutowel gemas pipinya yang tembem itu. Ia pun tersenyum sarat kemenangan.

@@@


(bersambung)

Minggu, 04 Januari 2015

Early Life Nutrition





Pada saat mengikuti seminar “Early Life Nutrition: “the Importance of Early Life Nutrition to Support Long Term Health”di Auditorium Gubenuran SUMBAR beberapa waktu lalu, mencerahkan pandangan saya terhadap pentingnya nutrien (zat gizi) demi menjamin status kesehatan untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik pada pria ataupun wanita.
Pada seminar ini yang menjadi fokus utama adalah wanita, karena wanita akan melahirkan calon-calon generasi suatu bangsa, maka status gizinya tidak hanya mempengaruhi dirinya tapi juga terhadap anak yang akan dilahirkannya suatu saat nanti.
“You Are What You Mother Eat”, kata kunci yang disampaikan oleh salah satu pembicara di seminar tersebut adalah benar adanya dan mencerminkan bahwa kualitas kesehatan SDM generasi suatu bangsa tergantung dari apa yang dikonsumsi oleh ibu. Baik sebelum masa kehamilan, selama masa kehamilan, sesudah persalinan (menyusui). Namun dewasa ini, kebanyakan orang  awam baru “melek gizi” ketika dirinya/pasangannya dinyatakan positif hamil. Padahal seharusnya “melek gizi” seyogyanya harus dilakukan sepanjang siklus kehidupan manusia.
Pada saat ini di Indonesia kita memiliki masalah gizi ganda, yaitu semakin banyak penduduk yang mengalami overweight dan obesitas, namun pada sisi lain juga masih banyak yang dalam kondisi kurang gizi (dr. Elvina Karyadi,M.Sc, Ph.D, Sp.GK, Director micronutrient Initiative Indonesia). Diketahui pula bahwa gangguan gizi pada ibu selama kehamilan maupun pada masa kanak-kanak juga berdampak pada munculnya penyakit kronik di saat anak dewasa (Dr.dr.Saptawati Bardosono, M.Sc, Medical Research Unit FK UI).
Itulah yang menjadi konsep dasar “early life nutrition”, yaitu kondisi gizi ibu akan sangat mempengaruhi anaknya di kemudian hari. Untuk terjadinya penyakit kronik, ada beberapa hal yang menjadi faktor resiko, dan beberapa diantaranya telah terprogram sejak janin. Salah satu faktor yang memberikan peran besar adalah gizi ibu pada saat sebelum dan selama kehamilan.
Maka, penting bagi kaum perempuan khususnya dan kaum laki-laki pada umumnya untuk memperhatikan asupan gizi serta status gizi pada diri masing-masing. Tubuh dengan status gizi yang baik dan sehat pada pria dan wanita, sangat diperlukan demi terciptanya generasi-generasi yang Sehat Jasmani dan Berprestasi.

(Padang, Oktober 2014)
@@@

Tanda Cinta-Mu


Wahai Insan yang dirundung Nestapa
Ketahuilah...
Jika Allah menginginkan kebaikan
pada seorang Hamba
Ia akan mengujinya lewat nikmat atau cobaan

wahai hati yang diliputi lara
tanamlah keyakinan
setiap bencana akan menjadi karunia
setiap ujian menjadi anugerah
setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala

wahai mata yang diselimuti kabut duka
ketika musibah dan bencana datang silih berganti
maka
Zikirlah kepada-Nya
sebut nama-Nya
Mohon pertolongan-Nya
Mintalah jalan keluar

wahai hamba yang dicintai oleh-Nya
sungguh,
sebaik-baik ibadah kepadaNya
menanti kemudahan dengan sabar
menanti datangnya kemudahan dengan sabar

kini
tak ada alasan lagi
untuk tetap nestapa, gundah nelangsa
dengan cobaan yang mendera
untuk tetap lupa, terlena dan lalai
pada nikmat yang melimpah ruah
karena semua itu
musibah dan karunia
Tanda cinta Allah pada Hamba-Nya

--Jambi, 2007--
by : Suci R Nurita

Selasa, 11 November 2014

----Belajar dari Para Bayi---





Pernahkah anda mendengar,
Keluh kesah disekitar kita
Akan kegagalan yg mendera
Akan ketidakberuntungan yg menyapa
Akan mimpi yg belum jadi nyata

Atau keluh kesah itu malah keluar dari mulut kita.
Bahkan membuat diri tak lagi mau berusaha
Bahkan menCap diri manusia tak berguna
Bahkan menyalahkan orang lain atas kegagalan yg dipunya


Belajar dari Bayi
Yang katanya Makhluk lemah tak berdaya
Yang katanya Belum bisa bicara.
Yang kerjanya hanya bisa menangis saja.

Sungguh mereka tak selemah itu..

Bagaimana mereka berusaha untuk belajar menegakkan kepala pertama kalinya 

walau jatuh sebagai konsekuensinya.
Bagaimana mereka berusaha untuk belajar membalikkan badan untuk pertama kalinya 

walau jatuh sebagai konsekuensinya.
Bagaimana mereka berusaha untuk belajar duduk untuk pertama kalinya 

walau jatuh sebagai konsekuensinya.
Bagaimana mereka berusaha untuk belajar berdiri untuk pertama kalinya 

walau jatuh sebagai konsekuensinya.
Bagaimana mereka berusaha untuk belajar berjalan untuk pertama kalinya 

walau jatuh sebagai konsekuensinya..

Hitunglah berapa banyak konsekuensi JATUH yg mesti dihadapi si Bayi..

Walau memang harus Jatuh,
Apakah membuat semangatnya surut?
Apakah membuat berhenti berusaha?
Apakah membuat dirinya diam tanpa daya?

Jawabannya adalah TIDAK.

Dan..
Anda dulu adalah bayi-bayi itu.
Jiwa-jiwa pejuang..


Jangan sampai jiwa pejuang itu hilang dari diri anda..
Jangan sampai "Jiwa bayi" anda memudar seiring dengan bertambahnya usia.

Teruslah menjadi pejuang-pejuang impian.
Baik di Dunia Terutama utk kehidupan Akhirat kelak.


*Selamat Hari Pahlawan*

Salam pejuang..
-Pejuang Impian & Pahlawan Keluarga Wanna be-

Suci Rahmani Nurita
Mrs. Fajrin Nurpasca dan Faid n Fahmi Mother.

Selasa, 16 September 2014

Tidak Cukup Kesungguhan, Tetapi Juga Kesabaran

Alhamdulillah, Entah apa skenario Allah,
tetapi yang jelas saya ditunjuki jawaban atas segala keresahan dan kegundahan saya selama ini
inilah jawaban atas pertanyaan batin saya selama ini.
ternyata tidak cukup hanya bersungguh2 dalam meraih sukses,
tapi juga perlu jurus kedua, yakni sabar.
dan itu yang harus kembali saya pelajari, selami dan implementasi dalam kehidupan saya.

Jawaban itu saya dapat dari novel kedua A. Fuadi, Novelis "Negeri 5 " yang national best seller itu.
judulnya "Ranah 3 Warna".
Segala kehausan, ketidakyakinan dan segala perasaan negatif campur aduk dibantah dan dibabat habis disini..
Hingga yang tersisa adalah kesadaran dan pengharapan.

Kira-kira kutipan inti terakhir novel ini seperti yang saya tulis dibawah :

----------------------------------------------------------------------------------------
Untuk menjinakkan badai hidup,
mantra man jadda wajada  ternyata tidak cukup sakti.
antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan.
tapi ada JARAK.
Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer.
jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan SABAR.
Sabar yang aktif,
Sabar yang gigih,
Sabar yang tidak menyerah,
Sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung
sabar yang membuat sesuatu tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do'a dan sabar yang berlebih-lebih.

bagaimanapun tingginya impian,
dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup didera nestapa tingkat akut
Hanya dengan sungguh-sungguh, jalan sukses terbuka
Tapi hanya dengan SABAR, takdir itu Terkuak menjadi Nyata.
Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan.
Itulah Hadiah buat hati yang Kukuh dan Sabar.

-------------------------------------------------------------------------
 Jadi, Sungguh2 saja tidak cukup,
Perlu diiringi dengan kesabaran.

Man Jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup,
gunakan jurus kedua, Man shabara zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)


- Novel "ranah 3 warna" dari Trilogi "Negeri 5 Menara" by A. Fuadi

Senin, 28 April 2014

Kita Bukan Malaikat


Ayah, ibu..
Ketahuilah menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita
bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua "malaikat"
yang tak boleh kecewa, sedih dan capek
pusing menghadapi anak.

Perasaan-perasaan negatif kepada anak itu wajar.
bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak,
itu yang menjadi fokus perhatian

artinya, Ayah dan ibu...
sebenarnya kita masih tetap boleh sedih dan kecewa kepada anak
tetapi kita sama sekali tidak berhak untuk melukai dan menyakiti anak-anak kita
ketahuilah melotot, mengancam, membentak
dapat membuat hati anak terluka
apalagi mencubit dan memukul tubuhnya
tubuhnya bisa kesakitan
tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada
dalam tubuhnya

Ayah dan ibu..
Karena kita bukan orang tua malaikat
yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat
yang langsung terampil berbuat kebaikan
mereka tengah belajar , Ayah
mereka masih berproses, Ibu
seperti belajar bersepeda
kadang mereka terjatuh
kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh

demikian juga dengan perilaku anak-anak kita
mereka bereksplorasi
mereka berproses
mereka mengayuh kehidupan
untuk meraih kebaikan
dan menjadi manusia yang berperilaku baik
ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku
sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,
padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan

jika Ayah-Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak dengan cara yang baik
Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka
akan terus bergerus dari kehidupan mereka

tetapi ayah, ibu
jika kita menghadapi ketidakterampilan ini dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan dan pelototan
mereka akan semakin terpuruk kedalam keburukan

ayah, ibu
yakinlah ketika seorang anak emosinya kepanasan
menangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk
yang mungkin dapat membuat orang tua jengkel
siramlah ia dengan kesejukan
Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas
hanya membuat ia makin terbakar

ayah dan ibu
yakinlah sifat-sifat negatif anak
hanyalah bagian eksplorasi
untuk memberi cahaya kehidupan
jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan
insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan

Karena itu, ayah dan ibu
jika kadang amarah dengan kejahiliahan memperlakukan anak
mampir lagi dalam hidup kita
kamus yang benar adalah "inilah uji ketulusan"
bukan kegagalan
terus belajar tentang kehidupan
bukan tak berhasil dalam kehidupan
belajar, memburu ilmu
adalah ikhtiar yang kita tuju
karena sebagian kita, ketika menikah
tidak disiapkan menjadi orang tua

jadi, ayah dan ibu
mari kita terus belajar
meskipun telah jadi orang tua; belajar jadi orangtua
andaikan keluarga kita kuat
insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental terhadap lingkungan yang gawat


by: Ihsan baihaqi Ibnu Bukhari
dalam bukunya : "Yuk Jadi Orang Tua Shalih"

Senin, 21 April 2014

Back to Nature, Back to ASI

       
   ASI adalah Air Susu Ibu yang merupakan sumber makanan utama bagi bayi untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Suatu karunia Ilahi yang dewasa ini lambat laun tidak disyukuri dan dimanfaatkan keberadaannya.
Kenapa saya dapat mengatakan hal itu? sebab fenomena yang terjadi dewasa ini adalah ada sebagian ibu yang menolak menyusui bayinya, sebagian besar karena alasannya adalah ASI belum keluar, produksi ASI belum banyak sehingga bayi tidak kenyang, bayi rewel dengan ASI yang sedikit, dsb. namun ada juga yang menolak karena alasan estetika payudara..Maka, terkadang jalan yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan bayi adalah memberikan PASI (pengganti ASI) seperti susu formula, pisang atau makanan cair lainnya..
         Bunda ketahuilah bahwa "ASI adalah yang terbaik", banyak sekali keunggulan dan manfaat dari pemberian ASI diantaranya:
1. Aspek Gizi
    manfaat kolostrum : kolostrum melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare, kolostrum juga memenuhi kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran karena mengandung protein, vitamin A yang tinggi serta karbohidrat dan lemak rendah. Kolostrum juga membantu mengeluarkan mekonium (kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan)

2. Aspek imunologik
    ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi. Ig A dalam ASI sangat tinggi yang dapat melumpuhkan bakteri patogen E.coli dan berbagai virus di saluran cerna

3. Aspek Psikologik
    Rasa percaya diri dan keyakinan ibu untuk menyusui dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin yg pada akhirnya aka meningkatkan produksi ASI. interaksi ibu-bayi pada saat menyusui mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan psikologis bayi.bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang dikenal bayi sejak masih dalam rahim

4. Aspek Kecerdasan
    Kandungan nilai gizi ASI dan interaksi ibu-bayi dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI memiliki IQ poin 4,3 poin lebih tinggi pada usia 18 bln, 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun dan 8,3 poin lebih tinggi pada usia 8,5 tahun dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

5. Aspek Neurologis
    dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas pada bayi baru lahir menjadi sempurna

6. Aspek ekonomis
    menyusui secara eksklusif membuat ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli makanan bayi sampai berusia 6 bulan. dengan demikian menghemat pengeluaran rumah tangga

7. Aspek penundaan kehamilan
    menyusui secara eksklusif dapat menund haid dan kehamilan, sehingga bisa digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yg dikenal dengan MAL (Metode Amenorea Laktasi)


Lalu, bagaimana upaya bunda untuk dapat memperbanyak ASI?
1. Menyusui bayi sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi
2. Pastikan posisi bayi menyusui benar dan dengarkan suara menelan yang aktif
3. susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman dan minumlah setiap kali menyusui
4. Ibu harus meningkatkan istirahat, konsumsi air putih dan makan makanan yang bergizi dan dapat meningkatkan produksi ASI seperti daun bayam atau daun katuk.

Bagi bunda yang bekerja atau memiliki aktivitas di luar rumah, tetap dapat menyusui bayi dengan cara memberikan ASI perah..ASI perah ini tetap memiliki kandungan gizi dan kualitas yang sama dengan "fresh" ASI.

Tindakan pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan cara :
1. Pengeluaran ASI manual dengan tangan.
    a. cara ini lebih praktis dan mudah, pertama cuci tangan dulu sampai bersih, kemudian siapkan gelas yang bersih dan bertutup. payudara dikompres dengan handuk hangat dan di pijat dengan kedua telapak tangan dari pangkal ke arah aerola payudara
    b. Peras daerah aerola dengan ibu jari dan telunjuk. Jangan memijat/ menekan puting karena dapat menyebabkan lecet
    c.  ulangi tindakan (tekan-peras-lepas-begitu seterusnya). awalnya ASI tidak keluar,namun setelah beberapa kali ASI akan keluar
    d. ulangi tindakan yang sama pada payudara yang satunya lagi
 2. Pengeluaran ASI dengan pompa payudara
     a. Tekan bola karet untuk mengeluarkan udara
     b. ujung  leher tabung diletakkkan pada payudara dengan puting susu tepat di tengah dan tabung benar-benar melekat di kulit
     c. bola karet dilepas agar puting susu dan aerola payudara tertarik ke dalam\
     d. tekan dan lepas beberapa kali sehingga ASI keluar dan terkumpul pada lekukan penampung pada sisi tabung
     e. setelah selesai dipakai, alat harus dicuci dengan bersih dan dibilas dengan air mendidih

Lalu bagaimana menyimpan ASI yang sudah diperah?
ASI bisa disimpan di udara terbuka/suhu bebas tetapi memiliki ketahanan 6-8 jam. Jika disimpan di dalam lemari es (4 derajat celcius) memiliki ketahanan 24 jam, namun jika disimpan di lemari pendingin (freezeer) dengan suhu minus 18 derajat memiliki ketahanan hingga 6 bulan.

Sangat perlu diperhatikan bagaimana pemberian ASI perahan yang telah disimpan. ASi yang dikeluarkan dari lemari pendingin tidak boleh dipanaskan ataupun disiram dengan air mendidih. cukup dibiarkan saja mencair dengan sendirinya di ruang terbuka dengan suhu kamar. Pada saat ingin memberikan, jangan diberikan dengan botol dot karena bisa menyebabkan bayi bingung puting. berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok.

Jadi, walaupun bekerja di luar rumah, bunda tetap bisa memberikan makanan terbaik bagi bayi yaitu ASI..
back to nature, back to ASI..Menuju Generasi yang lebih Sehat dan Cerdas