by : Zahra-SRN
1 Januari 2015
Sang Surya sudah mulai tinggal sepenggalah, namun tak jua menyurutkan semangat penduduk dusun ini. Seperti kerumunan semut yang berbaris rapi dan berjajar antri. Pernahkah engkau lihat seekor semut memotong barisan semut di depannya? Walau alasan terdesak sekalipun? Tak pernah bukan. Begitulah fenomena senja ini.
Antrian itu semakin lama semakin memendek. Satu persatu penduduk pulang dengan mimik lega. Tak lupa berbekal sekantong kecil berbungkus-bungkus obat. Bermacam-macam bentuknya, ada yang bulat kecil hingga bulat besar. Ada pula yang lonjong. Bahkan ada pula yang serbuk halus. Untuk yang terakhir, mestilah digiling dengan hati-hati dan cekatan didalam lumpang.
Tiga bulan sejak kedatangan kami kesini, sudah menjadi pemandangan yang biasa di Dusun Tuo ini. Maklumlah, sudah hampir setahun Puskesmas pembantu ini kosong tak berpenghuni. Tak jelas asal muasal musababnya. Tapi jika kau tengok ke sini, maka menjadi maklumlah. Aduhai siapalah gerangan yang mau bertinggal disini lebih lama? Jauh dari keramaian kota. Menempuh jaraknya bukanlah dekat. Jika kau bertolak dari kecamatan Muaro Bungo, 2 jam kemudian baru kau bisa tiba ke dusun ini. Jalanannya pun tiada semarak. Di kanan kiri hanya ada barisan pohon-pohon sawit yang terbentang menjulang ke langit sejauh matamu memandang. Belum lagi jika musim penghujan, seketika jalanan pun berubah tak ayal layaknya jalur reli motor. Berlumpur dan licin. Tak kusarankan kau memakai roda empat, dijamin kendaraan takkan bisa melaju cepat bahkan bisa terjebak. Hanya Sepeda bermesin yang menjadi harapan, walau kadang kau harus rela tubuhmu itu jatuh bermandikan lumpur.
Akhirnya aku bisa menghentikan penat. Kuregangkan kedua tangan yang mulai tak lancar peredaran darahnya. Ku tekuk leher ke kanan dan ke kiri. Kugoyangkan tubuh meliuk-liuk bak penari ular. Untuk waktu yang singkat, cukuplah kiranya gerakan ini mengembalikan kebugaran tubuhku yang sempat memudar. Kusampirkan jas putih dibalik pintu ruang periksa yang hanya berukuran 6 X 6 meter. Dominasi cat putih menambah dingin suasana ruang. Tak banyak penghuni, hanya ada 1 ranjang periksa, lampu sorot dan lemari kaca. Baru-baru ini saja bertambah penghuninya, dua kursi, satu meja kerja dan 1 rak kayu berukuran sedang yang memiliki roda. Bukan barang buatan luar negeri tapi asli buatan penduduk dusun sendiri.
Aku hanya mengeluarkan 1 lembar ratusan ribu untuk membeli paku serta tripleknya. Sedang yang lain, dari sokongan warga. Inilah yang membuatku terpukau, rasa gotong royong dan tolong menolong yang amat tinggi dikalangan penduduknya. Tak seperti daerah asal tempatku tinggal, di kompleks daerah TelanaiPura di Tengah Kota Jambi, kau akan menemukan rumah berjejer megah dengan pagar tinggi sejajar pintu. Tak nampak aktivitas penghuni didalamnya karena pandanganmu hanya membentur tembok. Bahkan aku pun baru tahu jika anak tetangga disamping rumah, kuliah di Fakultas yang sama denganku, ketika bertemu di acara Walimahan anak lain si empunya rumah. Yah, begitulah potret kehidupan sosial saat ini di kota yang mau beranjak besar.
Mencari sosok yang kurindukan, kutemukan ia di sudut dapur sedang mencuci perkakas dapur dengan cekatannya. Rupanya ia habis memasak, karena tak jauh dari sana, dari meja makan kayu, bau aroma Tempoyak Patin seketika menyeruak ke dalam hidungku yang lapar. Ditambah sambal terasi yang masih didalam cobekan, Rebusan daun ubi yang cantik terhidang menambah keakutan selera makanku menjadi stadium lanjut.
“Eits, jangan sentuh makanan itu bang. Cepatlah mandi. Kagek keburu Adzan Maghrib, payo kita sholat berjama’ah dulu. Kagek baru kito makan”. Seketika lengkingan jangkrik mulai terdengar, tapi sayup-sayup jarang. Tak seperti biasanya, kedengaran malu-malu. Seperti ia mewakili perasaan hatiku saat ini. Ku enggan beranjak, tapi sepasang tangan indah mengamit lenganku. Dengan tegas, ia menggandengku kekamar mandi, mengalungkan handuk sebagai hadiahnya. Dengan ekor matanya yang indah, menyihirku untuk segera masuk kedalam. Kutowel gemas pipinya yang tembem itu. Ia pun tersenyum sarat kemenangan.
@@@
(bersambung)






